Cahaya
Perjuangan Hidup dalam Gelap
Oleh Sandra Insana Sari
Pandangannya lurus menatap ke arah kosong,
dengan garis-garis wajahnya di sekitar pipi, dahi, dan matanya ia masih
terlihat kuat walau dikala merapuh badannya. Duduk di pinggiran pintu kaca yang
memisahkanya dengan udara sejuk ruangan dan panasnya terik matahari menampakkan
kegigihannya.
Wanita berjilbab dengan mata yang cekung
ke dalam dan lingkaran hitam disekelilingnya, berjuang sendiri untuk hidupnya
dengan bermodalkan kerupuk. Wanita yang bernama Sargiyah ini biasa dipanggil Sarmini.
Dia adalah seorang tunanetra yang menggantungkan hidup dengan berjualan kerupuk
di depan teras sebuah pusat perbelanjaan.
Syukur, itulah yang dapat membuatnya dapat
bertahan hingga saat ini. Dengan keterbatasan ekonomi yang dilengkapi dengan
keterbatasan fisiknya yang tidak bisa melihat, ia dapat melakukan segala
sesuatu untuk hidup layaknya orang biasa yang tak memiliki kekurangan.
Bagaimana ia berjualan? Bagaimana ia
melakukan aktivitas dengan keterbatasannya?
“Kalo
ada yang beli, ditanya uangnya berapa. Alhamdulilah
ga ada yang jahat malah terkadang
uang kembaliannya ga diambil. Sebelumnya
saya di depan jalanan tapi satpam sini nyuruh
saya jualan di sini,” ujar Sarmini yang saat itu diwawancarai di teras
Carrefour Puri Indah, Jakarta Barat (23/12).
“Saya dari rumah ke sini naik ojek. kalo
sehari-hari mandiri, masak telur apa semua sendiri. Waktu pendidikan di Temanggung
juga diajarin nyuci, gosok semua. Saya juga banyak kegiatan ikut-ikut organisasi,
baru-baru ini bergabung dengan Ikades, Pertuni dan Mandiri,” sambung Sarmini.
Di usianya yang 50-an tahun ini, Sarmini lebih memilih
mandiri daripada menggantungkan hidupnya pada orang lain termasuk anak satu-satunya
yang sudah berkeluarga. Tunanetra yang ia alami bukanlah kekurangan yang
dimiliki sejak lahir tapi kerena penyakit mata yang dideritanya sejak tahun
1992.
“Perasaan saya trauma, sedih waktu dulu
baru pertama tunanetra, saya diam saja di kamar, sampai teman saya ngasih formulir untuk masuk organisasi,
saya 2 tahun di sana,” ujar wanita asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini.
Selama pendidikannya, suami Sarmini datang
dari kampung setiap setengah bulan sekali untuk menengok Sarmini. Sarmini yang
sempat membuka panti pijat ini ingin menyusul suaminya ke kampung, namun dengan
kondisi anaknya yang masih balita, Sarmini tidak dapat memenuhi keinginannya.
Namun dengan berjalannya waktu, suami
Sarmini tidak ada kabar bak hilang ditelan ombak. Sarmini pun harus hidup tanpa
didampingi suaminya dan berjuang menafkahkan dirinya sendiri. Sungguh kenyataan
miris yang harus ia terima.
“Waktu itu pernah saya laku 5, bahkan ga laku sama sekali pun saya pernah
waktu bulan puasa. Tapi semua saya buat gembira aja, alhamdulilah lingkungan saya juga baik sama saya. Bagaimana
rintangan, saya tetap bersyukur,” kata Sarmini.
Pendapatannya sebagai seorang pedagang
kerupuk memanglah tidak dapat membawanya
pergi dari jurang kemiskinan. Tinggal dengan menyewa rumah di daerah Kompas, Jakarta
Barat mengharuskannya membayar setiap bulannya. Belum juga bahan pangan yang
harus dibeli untuk memenuhi kebutuhannya, sungguh perjuangan besar.
Namun
di atas segalanya ia tetap bersyukur dengan semua yang ia punya, ia lebih
memilih melakukan semuanya sendiri dan terus berusaha semampunya daripada harus
meminta belas kasih dari orang lain.
“Banyak orang memiliki kekurangan tapi
dia bisa bertahan, terutama yang bisa membuka usaha sendiri atau entrepreneurship. Itu jauh lebih baik,
karena tidak bisa dipungkiri masih banyak orang yang hidup dengan meminta,”
ujar Theo Alfonsius, S.E., M.M. salah satu dosen Ekonomi Universitas Bunda Mulia
(19/12).
Keikutsertaan Sarmini dalam berbagai
organisasi sangatlah memberi pengaruh besar. Pendidikan yang ia terima selama
di yayasan sangat membantunya dan juga memberi ia bekal mental untuk menjalani
hidup.
“Untuk ekonomi yang menengah ke bawah, kita
memang membutuhkan bantuan dari pemerintah. Karena yang bisa mengontrol jumlah masyarakat
menengah ke bawah ini hanya pemerintah,” sambung Theo yang saat itu
diwawancarai di lantai 3 gedung UBM.
Salah satu organisasi yang baru-baru ini
diikuti oleh Sarmini adalah Pertuni. Pertuni yang merupakan kepanjangan dari
Persatuan Tunanetra Indonesia telah menjadi wadah aspirasi bagi kepentingan
para tunanetra termasuk Sarmini.
“Seorang tunanetra yang berusaha dengan
berjualan berarti dia mempunyai kemauan besar untuk maju, suskses dan mandiri
dengan keterbatasannya. Kepedulian masyarakat sangat diharapkan. Meskipun
tunanetra itu ingin maju tetap saja kalau masyarakat tidak mendukung tidak bisa,
” kata Bayu Yulianto, Sekjen DPP Persatuan Tunanetra Indonesia
“Pertuni memberikan bantuan berupa
advokasi dan pemberdayaan kepada tunanetra, dan diharapkan keberadaan tunanetra
dapat diterima di masyarakat atas dasar kesetaraan. Harus ada timbal balik,
satu sisi tunanetra berjuang, dan sisi lain mendukung,” ujar Bayu yang saat itu
diwawancarai via telepon (30/12).
Hidup ini memanglah keras, keterbatasan
yang menjadi cambuk bukanlah hal yang melemahkan Sarmini tapi ini menjadi
cambuk yang menguatkannya. Suka dan duka yang dialami dijalaninya tanpa keluh.
Kegelapan dunia tidak menggelapkan hatinya untuk senantiasa bersyukur atas
semua.
Kegigihannya di usianya kini sangatlah
menginspirasi. Ia dapat menemukan cahayanya sendiri dalam gelapnya hidup.
Karena kehidupan bukan hanya kesenangan, tapi perjuangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar