Rabu, 02 Juli 2014

Cahaya dalam Gelap



Cahaya Perjuangan Hidup dalam Gelap
Oleh Sandra Insana Sari

     Pandangannya lurus menatap ke arah kosong, dengan garis-garis wajahnya di sekitar pipi, dahi, dan matanya ia masih terlihat kuat walau dikala merapuh badannya. Duduk di pinggiran pintu kaca yang memisahkanya dengan udara sejuk ruangan dan panasnya terik matahari menampakkan kegigihannya.
     Wanita berjilbab dengan mata yang cekung ke dalam dan lingkaran hitam disekelilingnya, berjuang sendiri untuk hidupnya dengan bermodalkan kerupuk. Wanita yang bernama Sargiyah ini biasa dipanggil Sarmini. Dia adalah seorang tunanetra yang menggantungkan hidup dengan berjualan kerupuk di depan teras sebuah pusat perbelanjaan.



     Syukur, itulah yang dapat membuatnya dapat bertahan hingga saat ini. Dengan keterbatasan ekonomi yang dilengkapi dengan keterbatasan fisiknya yang tidak bisa melihat, ia dapat melakukan segala sesuatu untuk hidup layaknya orang biasa yang tak memiliki kekurangan.
     Bagaimana ia berjualan? Bagaimana ia melakukan aktivitas dengan keterbatasannya?
     Kalo ada yang beli, ditanya uangnya berapa. Alhamdulilah ga ada yang jahat malah terkadang uang kembaliannya ga diambil. Sebelumnya saya di depan jalanan tapi satpam sini nyuruh saya jualan di sini,” ujar Sarmini yang saat itu diwawancarai di teras Carrefour Puri Indah, Jakarta Barat (23/12).
     “Saya dari rumah ke sini naik ojek. kalo sehari-hari mandiri, masak telur apa semua sendiri. Waktu pendidikan di Temanggung juga diajarin nyuci, gosok semua. Saya juga banyak kegiatan ikut-ikut organisasi, baru-baru ini bergabung dengan Ikades, Pertuni dan Mandiri,” sambung Sarmini.
     Di usianya yang  50-an tahun ini, Sarmini lebih memilih mandiri daripada menggantungkan hidupnya pada orang lain termasuk anak satu-satunya yang sudah berkeluarga. Tunanetra yang ia alami bukanlah kekurangan yang dimiliki sejak lahir tapi kerena penyakit mata yang dideritanya sejak tahun 1992.
     “Perasaan saya trauma, sedih waktu dulu baru pertama tunanetra, saya diam saja di kamar, sampai teman saya ngasih formulir untuk masuk organisasi, saya 2 tahun di sana,” ujar wanita asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini.
     Selama pendidikannya, suami Sarmini datang dari kampung setiap setengah bulan sekali untuk menengok Sarmini. Sarmini yang sempat membuka panti pijat ini ingin menyusul suaminya ke kampung, namun dengan kondisi anaknya yang masih balita, Sarmini tidak dapat memenuhi keinginannya.
     Namun dengan berjalannya waktu, suami Sarmini tidak ada kabar bak hilang ditelan ombak. Sarmini pun harus hidup tanpa didampingi suaminya dan berjuang menafkahkan dirinya sendiri. Sungguh kenyataan miris yang harus ia terima.
     “Waktu itu pernah saya laku 5, bahkan ga laku sama sekali pun saya pernah waktu bulan puasa. Tapi semua saya buat gembira aja, alhamdulilah lingkungan saya juga baik sama saya. Bagaimana rintangan, saya tetap bersyukur,” kata Sarmini.
     Pendapatannya sebagai seorang pedagang kerupuk memanglah  tidak dapat membawanya pergi dari jurang kemiskinan. Tinggal dengan menyewa rumah di daerah Kompas, Jakarta Barat mengharuskannya membayar setiap bulannya. Belum juga bahan pangan yang harus dibeli untuk memenuhi kebutuhannya, sungguh  perjuangan besar.
      Namun di atas segalanya ia tetap bersyukur dengan semua yang ia punya, ia lebih memilih melakukan semuanya sendiri dan terus berusaha semampunya daripada harus meminta belas kasih dari orang lain.
      “Banyak orang memiliki kekurangan tapi dia bisa bertahan, terutama yang bisa membuka usaha sendiri atau entrepreneurship. Itu jauh lebih baik, karena tidak bisa dipungkiri masih banyak orang yang hidup dengan meminta,” ujar Theo Alfonsius, S.E., M.M. salah satu dosen Ekonomi Universitas Bunda Mulia (19/12).
     Keikutsertaan Sarmini dalam berbagai organisasi sangatlah memberi pengaruh besar. Pendidikan yang ia terima selama di yayasan sangat membantunya dan juga memberi ia bekal mental untuk menjalani hidup.
     “Untuk ekonomi yang menengah ke bawah, kita memang membutuhkan bantuan dari pemerintah. Karena yang bisa mengontrol jumlah masyarakat menengah ke bawah ini hanya pemerintah,” sambung Theo yang saat itu diwawancarai di lantai 3 gedung UBM.
    Salah satu organisasi yang baru-baru ini diikuti oleh Sarmini adalah Pertuni. Pertuni yang merupakan kepanjangan dari Persatuan Tunanetra Indonesia telah menjadi wadah aspirasi bagi kepentingan para tunanetra termasuk Sarmini.
     “Seorang tunanetra yang berusaha dengan berjualan berarti dia mempunyai kemauan besar untuk maju, suskses dan mandiri dengan keterbatasannya. Kepedulian masyarakat sangat diharapkan. Meskipun tunanetra itu ingin maju tetap saja kalau masyarakat tidak mendukung tidak bisa, ” kata Bayu Yulianto, Sekjen DPP Persatuan Tunanetra Indonesia
     “Pertuni memberikan bantuan berupa advokasi dan pemberdayaan kepada tunanetra, dan diharapkan keberadaan tunanetra dapat diterima di masyarakat atas dasar kesetaraan. Harus ada timbal balik, satu sisi tunanetra berjuang, dan sisi lain mendukung,” ujar Bayu yang saat itu diwawancarai via telepon (30/12).
     Hidup ini memanglah keras, keterbatasan yang menjadi cambuk bukanlah hal yang melemahkan Sarmini tapi ini menjadi cambuk yang menguatkannya. Suka dan duka yang dialami dijalaninya tanpa keluh. Kegelapan dunia tidak menggelapkan hatinya untuk senantiasa bersyukur atas semua.
     Kegigihannya di usianya kini sangatlah menginspirasi. Ia dapat menemukan cahayanya sendiri dalam gelapnya hidup. Karena kehidupan bukan hanya kesenangan, tapi perjuangan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar